Memanusiakan Manusia Ala Kapolda Saya

Jalurtoba.com ( Medan ) – Catatan Wiku Sapta

 

Sedikit kesal awalnya menunggu Bang Martuani, pulang. Diajak ke rumah dinasnya di kawasan elit kota ini, sehabis Maghrib. Eh, baru muncul jam 9 malam kurang.

Belasan batang rokok ludes, kecuali filternya. Kombur soal mutasi pati dan pamen Polri sampai wartawan ribut sama polisi, tuntas dikupas. Syukurnya, enam gelas kopi disodorkan asisten rumah kedinasan. Sambil ngedrink kopi, kami pun menunggu sang jenderal pulang.

“Maaf adinda, saya tadi ketemu pimpinan Pondok Pesantren Al Kautsar sebelum pulang,”sapanya saat menemui kami. Oh maaf, malam itu, saya datang bersama Edi Iriawan, kepala Tim Bravo 4 dan beberapa asistennya John Manik, Abdul, Akbar dan Mukidi eh Mutadi (maaf). Saya kuatir teman-teman marah, namanya tak disebutkan padahal mereka yang mengajak saya. Eheheehee.

Awalnya, kami menunggu di pos jaga pasukan Brimob. Setelah melalui sterilisasi disinfektan dan cek suhu tubuh serta cuck tangan, kami dipersilahkan masuk ke ruang tamu.

Wajah ayah tiga anak itu tak secerah biasa. Jenderal ndeso berotak encer itu terlihat kecapean. Begitupun dia tetap tersenyum, malah sering membuat kami tertawa ngakak karena banyolannya.

Bukan bang Martuani (begitu saya biasa menyapa Kapolda Sumut itu), kalau tak bisa buat lawan bicaranya sakit perut terpingkal-pingkal. Karena beliau seorang polisi, maka jokenya pun tak jauh dari penjahat.

Pelajaran memaknai memanusiakan manusia pun dimulai. Kisahnya bermula ketika Martuani Sormin berdinas di Aceh Tenggara. Ada kasus pelik perihal pembunuhan. Leher korban digorok sampai putus. Motifnya sakit hati. Hanya itu.

Polisi disana, termasuk mantan Kapolda Papua itu, mumet 7 keliling. Tak ada saksi-saksi, hanya barang bukti darah digolok penggorok leher. Akhirnya, rambut korban pun dibawa ke laboratorium untuk diuji. Hasil tes, sampel darah dan rambut mengarah ke korban. Lantas siapa pelakunya?

Ternyata teman makan teman. Titik terang mulai didapat. Martuani mulai mencium gelagat peran seseorang. Njelimetnya, pelaku punya ilmu kanuragan. “Saya saja takut nangkapnya. Bayangkan lah, gembok warna keemasan buatan cina saja kebuka dengan hanya sekali tiup. Besi tahanan bengkok bos sekali usap pake tangannya. Percuma kan kalau ditahan, toh bisa lepas sendiri,”akunya. Kami pun kekeh, karena cara Martuani mengisahkannya sangat watak bak komedian kawakan.

Alhasil, ilmu memanusiakan manusia digunakannya. Ibu pelaku ditemui dengan maksud agar pembunuh mau menyerah. Maksud terrpenuhi dengan syarat, Martuani menjadi bagian dari keluarga pembunuh. “Sampai sekarang masih bersaudara, tapi sekarang dia sudah mati bos, sudah ditanam,”katanya.

Kisah kedua, masih soal kasus pembunuhan. Sekeluarga tetangga pelaku dicincang hanya gara-gara itik (bebek) mati. Sama dengan kisah pertama, pelaku sakti mandraguna. Pakai beragam metode penyiksaan, pelaku tak mau buka mulut.

Walhasil, Martuani ‘menuntut ilmu’ ke Juhar, Tiga Binanga dan beberapa daerah lain. Jompa-jampi dari orang-orang sakti itu dibawanya ke Polsek di Aceh Tenggara. “Sampe daun kelor pun kubawa bro. Tapi tau apa reaksi pelaku saat semua jompa-jampi tadi kupukulkan. Cuma nyebut, aduh!”ucapnya pelan, menirukan pelaku.

Kebayangkan saktinya pelaku. Tak putus asa. Martuani setel siksa cabut gigi pakai tang. Sebagai bukti gigi diletakkan di meja kerja. “Eh besok paginya, giginya tumbuh lagi, sementara gigi yang dicabut masih ada di meja. Gila nggak, gimana saktinya tuh orang bos,”ucapnya, kami pun gelak.

Martuani kembali menggalang kedekatan humanis. Berhasil. Mereka pun bersaudara hingga kini. Dari pengakuan pelaku, yang disiksa bukan dia tapi temannya pelaku. “Mak, apa nggak seram itu. Kawannya rupanya yang saya siksa selama ini. Tapi sudah mati juga dia ini bos. Sebelum mati, dia tidak ijinkan menuntut ilmu kesaktian sifat 27. Dia cuma bilang, untuk apa itu semua kalau tidak selamat, tuntut saja ilmu selamat, itu pesan pelaku ke saya.”

Dua kisah hebat ala Marruani ini menggambarkan betapa semua permasalahan bisa diselesaikan dengan upaya pendekatan humanis. “Tak usahlah merasa hebat. Prinsip saya simpel, kayak pegadaian, menyelesaikan masalah tanpa masalah, bukan nambah masalah,”tutupnya. (**)